MAKALAH FARMAKOLOGI VETERINER : Amlodipine Besylate - Calcium Channel Blocker (CCB)

 

FARMAKOLOGI VETERINER I

Amlodipine Besylate - Calcium Channel Blocker (CCB)

 



 

Oleh:

Arsyinta Retno Kusumaningrum (C031211053)

Nurul Husnah Auralia (C031211084)

 

 

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2023

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt, karena atas limpahan rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Amlodipine Besylate untuk Mengobati Hipertensi”. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas kelompok pada mata kuliah Farmakologi Veteriner I.

Dalam penyusunan makalah ini, semua isi ditulis berdasarkan buku-buku, jurnal serta artikel referensi yang berkaitan dengan obat amlodipine besylate yang digunakan pada hewan. Apabila dalam isi makalah ditemukan kekeliruan atau informasi yang kurang valid, tim penyusun sangat terbuka dengan kritik dan saran yang membangun untuk diperbaiki selanjutnya.

Jika dalam penulisan makalah ini terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penulisannya, maka kepada para pembaca, penulis memohon maaf sebesar-besarnya atas koreksi-koreksi yang telah dilakukan. Hal tersebut semata-mata agar menjadi suatu evalusi dalam pembuatan tugas ini. kami selaku penyusun sangat mengharapkan kritik disertai saran dari berbagai pihak.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya, dan semoga kebaikan orang-orang yang telah membantu kami dalam penyusunan makalah ini mendapatkan pahala dari Allah Swt. Aamiin.

 

Akhir kata, tim penyusun makalah mengucapkan terima kasih.

 

 

Makassar, 20 Mei 2023

 

 

Tim Penyusun


 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.. 2

DAFTAR ISI. 3

BAB I. 4

1.1   Latar Belakang. 4

1.2   Tujuan. 4

BAB II. 5

2.1   Definisi dan Fungsi 5

2.2   Farmakokinetik. 7

BAB III. 8

3.1   Kesimpulan. 8

 

Daftar Pustaka. 10

 

 


 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang

Hipertensi sebagai faktor risiko utama untuk penyakit kardiovaskular. Meskipun terdapat bukti yang mendukung efek menguntungkan dari terapi antihipertensi pada morbiditas dan mortalitas, manajemen tekanan darah yang adekuat masih kurang optimal. Penelitian pengobatan hipertensi telah menghasilkan banyak kelas obat dengan profil kemanjuran yang berbeda. Agen-agen ini termasuk β-blocker, diuretik, angiotensin-converting enzyme inhibitors (ACEI), penghambat reseptor angiotensin dan penghambat saluran kalsium. Salah satu kelompok antihipertensi tertua, di mana penghambat saluran kalsium merupakan kelompok obat yang heterogeni (Fares et al., 2016).

Amlodipine adalah dihydropyridine calcium channel blocker (CCB) dengan efek vasodilatasi perifer langsung dan efek kronotropik dan inotropik negatif sentral yang lebih lemah. Ini dianggap sebagai pengobatan pilihan untuk mengatasi hipertensi sistemik (SHT) pada kucing dengan penyakit ginjal kronis (CKD). Amlodipine memiliki bioavailabilitas oral yang tinggi dengan konsentrasi plasma puncak terjadi masing-masing pada 3, 6 dan 8 jam pada tikus, anjing dan manusia. Konsentrasi plasma meningkat dengan terapi kronis karena waktu paruh obat yang panjang. Biasanya diberikan secara oral tetapi aplikasi rektal telah disarankan untuk anjing dengan muntah terus-menerus (Geigy et al., 2011).

Calcium channel blocker (CCB) paling sering digunakan untuk pengobatan hipertensi, terutama pada kucing. Inotropik negatif sedikit, gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan penyakit jantung, disfungsi hati. Berpotensi menyebabkan anoreksia & hipotensi pada kucing di awal terapi. Hipertensi dapat dengan cepat terulang kembali jika dosisnya terlewatkan (Plumb, 2015).

1.2        Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui apa itu obat amlodipine besylate, bagaimana fungsinya terhadap hewan serta farmakinetik (absorbs, distribusi, metabolism dan ekskresi) dari amlodipine besylate.


 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1        Definisi dan Fungsi

2.1.1   Definisi

Amlodipine besylate termasuk dalam kelompok penghambat saluran kalsium, turunan dari 1,4-dihydropyridine, digunakan untuk pengobatan hipertensi arteri dan bentuk vasospastik angina pektoris. Amlodipine mengurangi resistensi perifer dan koroner, meningkatkan aliran darah koroner, mengurangi kelebihan kalsium intraseluler, menekan agregasi trombosit. Amlodipine dalam terapi hipertensi modern banyak digunakan bersamaan dengan persiapan kelompok utama obat antihipertensi: perindopril, ramipril dan lisinopril, indapamide. Ketika amlodipine digunakan, ada kemungkinan efek samping: hipotensi arteri, takikardia, sakit kepala, mual, pusing, gangguan penglihatan, dan depresi. Manifestasi utama overdosis amlodipine adalah hiperglikemia, asidosis metabolik, ketidakseimbangan elektrolit, bradikardia sinus, kolaps. Menurut sumber literatur, amlodipine jika overdosis dapat memicu perkembangan kanker payudara, menyebabkan iskemia saraf optic (Mamina, 2017).

Calcium channel blockers (CCBs) pertama kali diperkenalkan lebih dari 35 tahun yang lalu pada awalnya untuk penyakit jantung koroner (PJK), tetapi obat ini mendapat pengakuan luas untuk kemanjurannya dalam hipertensi (HTN). Indikasi awal, selain hipertensi, juga termasuk angina, penyakit pembuluh darah perifer dan beberapa kondisi aritmia. Amlodipine memiliki banyak kualitas unik yang membedakannya dari agen lain di kelas ini (Fares et al., 2016).

Dibandingkan dengan nifedipine dan obat lain di kelas dihydropyridine, amlodipine memiliki waktu paruh terpanjang pada 30 sampai 50 jam. Manfaat dari waktu paruh yang begitu lama adalah kemampuan untuk mendapatkan dosis sekali sehari. Amlodipine tersedia sebagai amlodipine besylate, yang awalnya disetujui pada tahun 1987 oleh FDA. Amlodipine bekerja dengan memblokir saluran kalsium tipe-L yang bergantung pada tegangan, sehingga menghambat masuknya kalsium awal. Penurunan kalsium intraseluler menyebabkan penurunan kontraktilitas otot polos pembuluh darah, peningkatan relaksasi otot polos, dan mengakibatkan vasodilatasi. Selain itu, amlodipine dalam meningkatkan fungsi endotel vaskular pada pasien hipertensi (Bulsara dan Cassagnol, 2023).

Kalsium mengikat kalmodulin intraseluler, yang mengikat dan mengaktifkan myosin light-chain kinase (MLCK). MLCK bertanggung jawab atas fosforilasi rantai ringan myosin, yang pada akhirnya menyebabkan kontraksi otot dan vasokonstriksi. Kontraksi otot polos pembuluh darah semakin diperkuat oleh pelepasan kalsium yang diinduksi kalsium dari retikulum sarkoplasma. Urutan peristiwa ini menyebabkan penurunan luas penampang vaskular, peningkatan resistensi vaskular, dan peningkatan tekanan darah (Ferrari et al., 2019).

2.1.2   Fungsi

Amlodipine oral digunakan dalam pengobatan hipertensi pada kucing dan banyak yang menganggapnya sebagai obat pilihan untuk indikasi  ini. Dalam studi farmakokinetik, amlodipine telah menurunkan tekanan darah pada anjing dengan penyakit ginjal kronis, tetapi kemanjurannya dalam mengobati anjing hipertensi telah mengecewakan. Hipertensi pada kucing biasanya disebabkan oleh penyakit lain (sering gagal ginjal atau penyebab jantung seperti kardiomiopati tirotoksik atau kardiomiopati hipertrofi primer, dll.) dan paling sering terlihat pada kucing paruh baya atau geriatrik. Hewan dengan penyakit hipertensi sering muncul dengan tanda klinis akut seperti kebutaan, kejang, kolaps atau paresis. Seekor kucing umumnya dianggap hipertensi jika tekanan darah sistoliknya >160 mmHg. Laporan awal menunjukkan bahwa jika terapi antihipertensi dimulai secara akut, beberapa penglihatan dapat dipulihkan pada sekitar 50% kasus kebutaan sekunder akibat hipertensi (Plumb, 2015).

Amlodipine adalah penghambat saluran kalsium dihidropiridin oral. Amlodipine tersedia sebagai amlodipine besylate, berikut beberapa indikasi yang disetujui FDA:

a.             Hipertensi - Amlodipine adalah pilihan lini pertama yang sangat baik di antara beberapa pilihan agen antihipertensi. Ini dapat digunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan agen antihipertensi lainnya (Fares et al., 2016).

b.            Angina Stabil Kronis - Amlodipine diindikasikan untuk pengobatan simtomatik angina stabil kronis. Amlodipine dapat digunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan obat antiangina lain (Ferrari et al., 2019).

c.             Vasospastic Angina (Prinzmetal atau Variant Angina) - Amlodipine diindikasikan untuk mengobati angina vasospastik yang dikonfirmasi atau dicurigai (Fihn et al., 2012).

d.            Penyakit arteri koroner yang didokumentasikan secara Angiografi (CAD) - Pada pasien dengan CAD yang baru-baru ini didokumentasikan dengan angiografi dan tanpa gagal jantung atau fraksi ejeksi <40%, Amlodipine diindikasikan untuk mengurangi risiko rawat inap dari angina dan mengurangi risiko prosedur revaskularisasi coroner (Pitt et al., 2000).

Sementara itu terdapat bebrapa indikasi yang tidak disetujui oleh FDA adalah nefropati diabetic (Tabur et al., 2015), hipertrofi ventrikel kiri (Ostroumova, et al., 2016), fenomena raynaud (Lee, et al., 2014), silent myocardial ischemia (Leonard dan Philips, 2007), dan grup 1 hipertensi arteri paru (PAH), yaitu hanya digunakan pada pasien PAH idiopatik dengan tes vasodilator positif (Velayati et al., 2016).

2.2        Farmakokinetik

2.2.1  Absorbsi

Obat yang bekerja dengan pemblokiran saluran kalsium secara cepat dan hampir sepenuhnya diserap dari saluran pencernaan, tetapi memiliki metabolisem lintas pertama yang ekstensif. Pada amlodipine besylate memiliki tingkat penyerapan yang lambat. Waktu untuk mencapai konsentrasi serum cepat, antara lain 20-45 menit untuk immediate-release dan 4-12 jam untuk sustained-release. Onset akan bervariasi dengan formulasi dan cara konsumsinya. Hewan yang menggigit dan menelan sustained-release obat dapat menunjukkan tanda-tanda dalam 5 menit, sedangkan yang menelan seluruh obat dapat menunjukkan tanda-tanda dalam beberapa jam. Selain itu, obat sustained-release berkelanjutan dapat memiliki toksisitas yang berkepanjangan karena penyerapan yang lebih lambat (Wright dan King, 2015).

2.2.2  Distribusi

Distribusi ekstensif obat ini dalam menghambat kalsium kira-kira 80% terikat oleh protein. Oleh karena itu, interaksi dengan obat lain yang terikat dengan protein tinggi dapat mengakibatkan persaingan untuk tempat pengikatan (Wright dan King, 2051). Adapun distribusi amlodipine besylate paling banyak menuju jaringan hepar (Sunita, 2021).

2.2.3  Metabolisme

Amlodipine secara luas diabsorpsi oleh hati menjadi metabolit inaktif di mana 10% berupa komponen utama dan 60% metabolit diekskresikan bersama urine (Plumb, 2015).

 

2.2.4  Ekskresi

Amlodipine sebagian besar (sekitar 90%) dikonversi menjadi zat metabolit inaktif melalui jalur hepatik. Telah dilaporkan bahwa 10% zat induk dan 60% metabolitnya ditemukan di urine. Farmakokinetik amlodipine tidak terpengaruh terhadap kondisi gangguan renal (Sunita, 2021).

BAB III

PENUTUP

3.1        Kesimpulan

Amlodipine besylate termasuk dalam kelompok penghambat saluran kalsium, turunan dari 1,4-dihydropyridine, digunakan untuk pengobatan hipertensi arteri dan bentuk vasospastik angina pektoris. Amlodipine oral digunakan dalam pengobatan hipertensi pada kucing. Beberapa indikasi yang disetujui FDA dalam penggunaan amlodine, seperti hipertensi, angina stabil kronis, vasospastic angina (Prinzmetal atau Variant Angina), dan penyakit arteri koroner yang didokumentasikan secara Angiografi (CAD).

a.       Absorbsi: bekerja dengan pemblokiran saluran kalsium secara cepat dan hampir sepenuhnya diserap dari saluran pencernaan. Waktu untuk mencapai konsentrasi serum cepat, antara lain 20-45 menit untuk immediate-release dan 4-12 jam untuk sustained-release.

b.      Distribusi: menghambat kalsium kira-kira 80% terikat oleh protein.

c.       Metabolisme: diabsorpsi oleh hati menjadi metabolit inaktif di mana 10% berupa komponen utama dan 60% metabolit diekskresikan bersama urine.

d.      Ekskresi: 10% zat induk dan 60% metabolitnya ditemukan di urine.


e.        

Daftar Pustaka

Bulsara, K.G., Cassagnol M. Amlodipine. [Updated 2023 Jan 22]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK519508/

Fares, H., DiNicolantonio, J. J., O'Keefe, J. H., & Lavie, C. J. 2016. Amlodipine in Hypertension: A First-line Agent with Efficacy for Improving Blood Pressure and Patient Outcomes. Open Heart. 3(2): 1-7.

Ferrari, R., Pavasini, R., Camici, P.G., Crea, F., Danchin, N., Pinto, F., Manolis, A., Marzilli, M., Rosano, G.M.C., Lopez-Sendon, J., dan Fox, K. 2019. Anti-anginal drugs-beliefs and evidence: systematic review covering 50 years of medical treatment. Eur Heart J. 40(2): 190-194.

Fihn, S.D., Gardin, J.M., Abrams, J., Berra, K., Blankenship, J.C., Dallas, A.P., Douglas, P.S., Foody, J.M., Gerber, T.C., Hinderliter, A.L., King, S.B., Kligfield, P.D., Krumholz, H.M., Kwong, R.Y., Lim, M.J., Linderbaum, J.A., Mack, M.J., Munger, M.A., Prager, R.L., Sabik, J.F., Shaw, L.J., Sikkema, J.D., Smith, C.R., Smith, S.C., Spertus, J.A., Williams, S.V., dan Anderson, J.L. 2012. American College of Cardiology Foundation/American Heart Association Task Force. 2012 ACCF/AHA/ACP/AATS/PCNA/SCAI/STS guideline for the diagnosis and management of patients with stable ischemic heart disease: a report of the American College of Cardiology Foundation/American Heart Association task force on practice guidelines, and the American College of Physicians, American Association for Thoracic Surgery, Preventive Cardiovascular Nurses Association, Society for Cardiovascular Angiography and Interventions, and Society of Thoracic Surgeons. Circulation. 126(25): 354-471.

Geigy, C. A., Schweighauser, A., Doherr, M. dan Francey, T. 2011. Occurrence of Systemic Hypertension in Dogs with Acute Kidney Injury and Treatment with Amlodipine Besylate. Journal of Small Animal Practice. 52(7): 340–346.

Lee EY, Park JK, Lee W, Kim YK, Park CS, Giles JT, Park JW, Shin K, Lee JS, Song YW, Lee EB. Head-to-head comparison of udenafil vs amlodipine in the treatment of secondary Raynaud's phenomenon: a double-blind, randomized, cross-over study. Rheumatology (Oxford). 2014 Apr;53(4):658-64.

Leonard L, Phillips WJ. Near-complete migraine prophylaxis with amlodipine: a case report. J Pain Symptom Manage. 2007 Dec;34(6):571-3.

Mamina, O. 2017. Study of the Distribution of Amlodipine in Organs of Poisoned Animals. Technology Transfer: Innovative Solutions in Medicine. 55-57.

Ostroumova OD, Kochetkov AI. [Effects of Amlodipine/Lisinopril Fixed-Dose Combination on Severity of Left Ventricular Hypertrophy and Parameters of Myocardial Stiffness in Patients With Hypertension]. Kardiologiia. 2016 Dec;56(11):27-37.

Pitt, B., Byington, R.P., Furberg, C.D., Hunninghake, D.B., Mancini, G.B., Miller, M.E., dan Riley, W. 2000. Effect of Amlodipine on the Progression of Atherosclerosis and the Occurrence of Clinical Events. PREVENT Investigators. Circulation. 102(13): 1503-10.

Plumb, Donald C. 2015. Plumb’s Veterinary Drug Handbook, Eight Edition. Wiley Blackwell: USA.

Sunita. Amlodipine. URL: https://www.alomedika.com/obat/obat-kardiovaskuler/antihipertensi/amlodipine/farmakologi . Diakses pada: 20 Mei 2023.

Tabur, S., Oğuz, E., Sabuncu, T., Korkmaz, H., dan Çelik, H. 2015. The Effects of Calcium Channel Blockers on Nephropathy and Pigment Epithelium-Derived Factor in the Treatment of Hypertensive Patients with Type 2 Diabetes Mellitus. Clin Exp Hypertens. 37(3):177-83.

Velayati A, Valerio MG, Shen M, Tariq S, Lanier GM, Aronow WS. Update on pulmonary arterial hypertension pharmacotherapy. Postgrad Med. 2016 Jun;128(5):460-73.

Wright, A.M., dan King, L.G. 2015. Small Animal Critical Care Medicine, Second Edition. Elsevier: USA.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CONTOH REVIEW JURNAL : PARASITOLOGI VETERINER II

Catatan Metabolisme : Fisiologi Veteriner II